BATUBARA | BERITARUANG.COM – Polemik pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di lapangan sepak bola Desa Gunung Rante, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, memicu perbedaan pandangan di kalangan politisi.
Perbedaan sikap itu mencuat dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi I DPRD Batubara yang digelar pada Selasa (7/4/2026).
Wakil Ketua Komisi I DPRD Batubara dari PDIP, Drs. Bonar Manik, menegaskan pentingnya menelusuri sejarah kepemilikan lahan sebelum pembangunan dilanjutkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyebut, lapangan tersebut diduga merupakan hasil swadaya masyarakat sejak tahun 1970-an, termasuk dari pemotongan gaji perangkat desa.
“Sejarah ini harus menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.
Bonar juga meminta agar pembangunan Kopdes Merah Putih dihentikan sementara hingga ada hasil musyawarah masyarakat.
Namun, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Batubara, Safii, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai pembangunan harus tetap berjalan karena merupakan bagian dari program pemerintah dalam mendorong kemajuan desa.
“Kalau proses ini terlalu lama, bisa menghambat harapan terhadap program tersebut,” katanya.
Sementara itu, anggota DPRD Batubara, Rusli, menyampaikan bahwa pihaknya akan menelusuri kebenaran status lahan dan mencari solusi terbaik.
“Kita akan cari jalan tengah. Program pemerintah harus didukung, namun aspirasi masyarakat juga perlu diperhatikan,” ujarnya.
Komisi I DPRD Batubara juga merekomendasikan agar Pemerintah Desa Gunung Rante segera menggelar musyawarah dengan melibatkan masyarakat, pihak pro dan kontra, serta tokoh yang mengetahui sejarah lahan tersebut.
Di sisi lain, Kepala Desa Gunung Rante menyatakan bahwa lahan lapangan tersebut telah dihibahkan. Namun, hal ini masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat.
Pantauan di lokasi pada Sabtu (11/4/2026), aktivitas pembangunan Kopdes Merah Putih masih terus berlangsung meski DPRD Batubara sebelumnya telah merekomendasikan penghentian sementara.











