Tapanuli Utara,(BeritaRuang) — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika bersama Perum Jasa Tirta I dan PT Indonesia Asahan Aluminium resmi melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) guna meningkatkan ketinggian permukaan air Danau Toba.
Langkah ini dilakukan sebagai respons atas kondisi tinggi muka air Danau Toba yang saat ini berada di level 903,00 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison, menyampaikan bahwa operasi ini merupakan langkah strategis dalam menjaga keseimbangan cadangan air nasional, terutama menjelang musim kemarau.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat ini merupakan periode transisi musim hujan ke kemarau, dengan kondisi atmosfer yang masih labil dan sangat mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca,” ujarnya di Stasiun Meteorologi Silangit.
BMKG menilai April 2026 sebagai waktu ideal pelaksanaan OMC karena:
- Kelembapan udara tinggi mencapai 70–100 persen
- Potensi uap air melimpah di atmosfer
- Kondisi cuaca tidak stabil, mendukung pembentukan awan hujan
Dengan kondisi ini, operasi diharapkan mampu mengoptimalkan curah hujan di kawasan tangkapan air Danau Toba.
Operasi modifikasi cuaca kini tidak hanya difokuskan pada penanggulangan bencana, tetapi juga diarahkan untuk:
- Menjaga ketahanan air
- Mendukung energi nasional (khususnya PLTA)
- Menopang ketahanan pangan
Ini menjadi bagian dari pendekatan baru BMKG dalam pengelolaan sumber daya berbasis teknologi cuaca.
Kegiatan OMC direncanakan berlangsung selama 25 hari, dengan pengawasan dari:
- Tim ahli meteorologi
- Ahli hidrologi
- Tim lingkungan
Selain itu, pemantauan dilakukan melalui pos meteorologi di sekitar wilayah Danau Toba untuk memastikan efektivitas operasi.
Perwakilan PJTI, Gede Santika, menegaskan bahwa target utama adalah kenaikan elevasi permukaan air Danau Toba.
Sementara itu, tim teknis BMKG optimistis karena program serupa sebelumnya terbukti mampu meningkatkan curah hujan hingga 30–50 persen.











