MEDAN, BERITARUANG.COM – Nama Olo Panggabean bukan sekadar legenda di Kota Medan. Ia adalah simbol kekuasaan jalanan, pengaruh sosial, sekaligus kontroversi yang membekas kuat sejak era 1990-an hingga awal 2000-an.
Dikenal dengan julukan “Godfather”, Olo Panggabean menjadi sosok yang disegani sekaligus diperbincangkan. Bagi sebagian orang, ia adalah pemimpin yang karismatik. Namun bagi yang lain, ia identik dengan dunia hitam yang tak terpisahkan dari praktik perjudian dan jaringan premanisme.
Perjalanan Olo dimulai dari aktivitas kepemudaan. Pada era 1960-an, ia tercatat sebagai anggota Pemuda Pancasila. Seiring waktu, pengaruhnya berkembang hingga akhirnya bersama rekan-rekannya mendirikan Ikatan Pemuda Karya (IPK) pada 28 Agustus 1969.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari organisasi inilah, Olo mulai membangun jaringan dan kekuatan yang kemudian menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Sumatera Utara.
Ia menetap di kawasan Jalan Sekip, Medan Petisah, di sebuah rumah besar yang dikenal dengan sebutan “Gedung Putih”. Tempat itu bukan hanya kediaman, tetapi juga menjadi simbol kekuasaan dan pusat aktivitasnya.
Namun, perjalanan hidup Olo tidak pernah lepas dari konflik. Ia beberapa kali bersinggungan dengan aparat penegak hukum. Salah satu momen yang paling mencuat adalah saat Kapolri saat itu, Sutanto, meminta penghentian praktik perjudian yang diduga terkait dengannya.
Meski bisnis judi yang melekat pada namanya sempat meredup, Olo juga dikenal memiliki usaha legal di berbagai sektor, mulai dari properti hingga SPBU.
Di balik citra kerasnya, Olo juga dikenal memiliki sisi kemanusiaan. Ia kerap membantu anak-anak terlantar, memberikan pekerjaan, bahkan membiayai pendidikan bagi mereka yang kurang mampu.
Karisma dan pengaruh yang dimilikinya membuat Olo tidak hanya menjadi tokoh yang ditakuti, tetapi juga dihormati. Hingga kini, namanya masih hidup dalam ingatan banyak orang.
Olo Panggabean meninggal dunia pada 2009 dan dimakamkan di Pekuburan Kristen Taman Eden, Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang.
Meski telah tiada, sosoknya tetap menjadi perbincangan. Bahkan, usulan menjadikan namanya sebagai nama jalan di Kota Medan kembali memunculkan pro dan kontra—menunjukkan bahwa warisan Olo Panggabean masih terus hidup di tengah masyarakat.
(Redaksi)











